Minggu, 11 Maret 2012

jati diri batak


“Ulos Batak”, dikenal sebagai Jati diri orang Batak sesuai Budaya dan Adatnya.


Orang Batak sudah dikenal sebagai “Bangso”, kenapa..?
Dahulu sudah memiliki Kerajaan sendiri, Mardebata Mulajadi Nabolon (“pencipta yang maha besar”), memiliki Surat Aksara Batak, dan sudah pernah memiliki Uang tukar yakni Ringgit Batak (“Ringgit Sitio Suara”), uning-uningan namarragam (“musik”), memiliki Budaya Adat, dan mempunyai Hukum.
Namun sekarang ini sudah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan orang Batak Toba sudah banyak yang tidak mengetahui bahasa daerahnya sendiri, melihat perkembangan teknologi sekarang ini, tor-tor Batak sudah banyak yang tidak mengetahuinya, bahkan dewasa ini Ulos Batak tidak dikenal jenis-jenis dan Fungsinya.

2 Musa 19 ayat 10:
Dung i didok Jahowa ma tusi Musa laho maho tumopot bangso i jala urasi nasida sadarion dohot marsogot asa ditatap nasida Ulos na.

Dengan dasar ini Bersama Toba dot Com, mensosialisasikan Jenis dan Fungsi Ulos Batak:
I.Ulos Antak-Antak, dipakai selendang orang tua melayat orang meninggal, dan dipakai sebagai kain dililit/ hohop hohop waktu acara manortor.
II.Ulos Bintang Maratur, Ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya didalam acara-acara yakni: Diberikan kepada anak yang memasuki rumah baru oleh orang tua, kalau diadat Toba Ulos ini diberikan waktu selamatan Hamil 7 Bulan oleh orang tua, tetapi lain halnya kalau di Tarutung Ulos ini yang diberikan waktu acara suka cita (“gembira”), Ulos ini juga diberikan kepada Pahompu yang baru lahir, parompa walaupun kebanyakan kasih mangiring apalagi yang maksudnya agar anak yang baru lahir diiringi anak selanjutnya, kemudian ulos ini dipakai untuk pahompu yang dibabtis dan juga dipakai untuk sebagai selendang.
III.Ulos Bolean, Ulos ini dipakai sebagai selendang pada acara-acara kedukaan.
IV.Ulos Mangiring, Ulos ini dipakai selendang, Tali-tali, juga Ulos ini diberikan kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama yang dimaksud sebagai Simbol keinginan agar sianak diiringi anak yang seterusnya, bahkan Ulos ini dapat dipakai sebagai Parompa.
V.Ulos Padang Ursa, dipakai sebagai Tali-tali dan Selendang.
VI..Ulos Pinan Lobu-Lobu, dipakai sebagai Selendang.
VII. Ulos Pinuncaan, Ulos ini sebenarnya terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian disatukan dengan rapi hingga menjadi bentuk satu Ulos yang kegunaannya antara lain:
Ulos ini dapat dipakai berbagai keperluan acara-acara duka cita atau suka cita, dalam acara adat ulos ini dipakai/ disandang oleh Raja-Raja Adat maupun oleh Rakyat Biasa selama memenuhi pedoman misalnya, pada pesta perkawinan atau upacara adat suhut sihabolonon/ Hasuhutonlah (“tuan rumah”) yang memakai ulos ini, kemudian pada waktu pesta besar dalam acara marpaniaran, ulos ini juga dipakai/ dililit sebagai kain/ hohop-hohop oleh keluarga hasuhuton, dan Ulos ini sebagai Ulos Passamot pada acara Perkawinan.
VIII,Ulos Ragi Hotang, Ulos ini biasa diberi kepada sepasang pengantin yang disebut sebagai Ulos Hela.
IX.Ragi Huting, Ulos ini sekarang sudah Jarang dipakai, konon jaman orang tua dulu sebelum merdeka, anak-anak perempuan pakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari dililit didada (Hoba-hoba), dan kemudian dipakai orang tua sebagai selendang apabila bepergian.
X.Ulos Sibolang Rasta Pamontari, Ulos ini kalau jaman dulu dipakai untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang ini sibolang bisa dikatakan symbol duka cita, dipakai juga sebagai Ulos Saput (yang meninggal orang dewasa yang belum punya cucu), dan dipakai sebagai Ulos Tujung (Janda/Duda yang belum punya cucu), dan kemudian pada peristiwa duka cita Ulos ini paling banyak dipergunakan oleh keluarga dekat.
XI.Ulos Sibunga Umbasang dan Ulos Simpar, dipakai sebagai Selendang.
XII.Ulos Sitolu Tuho, Ulos ini dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita,
XIII.Ulos Suri-suri Ganjang, dipakai sebagai Hande-hande pada waktu margondang, dan dipergunakan sebagai oleh pihak Hula-hula untuk manggabe i borunya karena itu disebut juga Ulos gabe-gabe.
XIV.Ulos Ragi Harangan, pemakaiannya sama dengan Ragi Pakko.
XV. Ulos Simarinjam sisi, dipakai sebagai kain, dan juga dilengkapi dengan Ulos Pinuncaan disandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani yang memakai ini satu orang paling depan.
XVI. Ulos Ragi Pakko, dipakai sebagai selimut pada jaman dahulu dan pengantar wanita yang dari keluarga kaya bawa dua ragi untuk selimut yang dipergunakan sehari-hari, dan itu jugalah apabila nanti setelah tua meninggal akan disaput pakai Ragi ditambah Ulos lainnya yang disebit Ragi Pakko lantaran memang warnanya hitam seperti Pakko.
XVII.Ulos Tumtuman, dipakai sebagai tali-tali yang bermotif dan dipakai anak yang pertama dari hasuhutan.
XVIII Ulos Tutur-Tutur, dipakai sebagai tali-tali dan sebagai Hande-hande yang sering diberikan oleh orang tua sebagai Parompa kepada cucunya.
Maka dari jenis dan fungsi Ulos ini, disebut pengenalan jati diri orang batak sesuai Budaya dan Adatnya, dan orang Batak dikenal dari Ulos yang disandangnya, sian Tortornya bahkan dari Tungkot na.
Horassssss.!!!!!.

jenis,makna dan fungsi ulos


Jenis, makna dan fungsi.
Jenis dan Fungsi Ulos Batak berdasarkan makna yang terkandung di dalamnya adalah:  :
I. Ulos Antak-Antak.
Ulos ini dipakai sebagai selendang orang tua untuk melayat orang yang meninggal, selain itu ulos tersebut juga dipakai sebagai kain yang di lilit pada waktu acara manortor (menari).
II. Ulos Bintang Maratur.
Ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya di dalam acara-acara adat Batak Toba yakni:
  1. 1.       Kepada anak yang memasuki rumah baru.
Memiliki rumah baru (milik Sendiri) adalah merupakan suatu kebanggaan terbesar bagi masyarakat Batak Toba. Keberhasilan membangun atau memiliki rumah baru di anggap sebagai salah satu bentuk keberhasilan atau prestasi tersendiri yang tak ternilai harganya. Tingginya penghargaan kepada orang yang telah berhasil membangun dan memiliki rumah baru adalah karena keberhasilan tersebut di anggap merupakan suatu berkat dari Tuhan yang maha Esa yang di sertai dengan adanya usaha dan kerja keras yang bersangkutan di dalam menjalani kehidupan. Keberhasilan membangun atau memiliki rrumah baru adalah merupakan situasi yang sangat menggembirakan, oleh karena itu ulos ini akan diberikan kepada orang yang sedang berada dalam suasana bergembira. Orang batak yang tinggal dan menetap di berbagai puak/horja di sekitar Tapanuli telah memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda pula. Walaupun konsep dan pemahaman tentang adat itu secara umum adalah sama, namun pada hal-hal tertentu ada kalanya memiliki perbedaan dalam hal pemaknaan terhadap nilai dan konsep adat yang ada sejak turun-temurun. Oleh karena itu pemberian Ulos Bintang Maratur khusus di daerah Silindung di berikan kepada orang yang sedang bergembira dalam hal ini sewaktu menempati atau meresmikan rumah baru.
Secara khusus di daerah Toba Ulos ini diberikan waktu acara selamatan Hamil 7 Bulan yang diberikan oleh pihak hula – hula kepada anaknya. Ulos ini juga di berikan kepada Pahompu (cucu) yang baru lahir sebagai Parompa (gendongan) yang memiliki arti dan makna agar anak yang baru lahir itu di iringi kelahiran anak yang  selanjutnya, kemudian ulos ini juga di berikan untuk pahompu (cucu) yang baru mendapat babtisan di gereja dan juga bisa di pakai sebagai selendang.
III. Ulos Bolean.
Ulos ini biasanya di pakai sebagai selendang pada acara-acara kedukaan.
IV. Ulos Mangiring.
Ulos ini dipakai sebagai selendang, Tali-tali, juga Ulos ini di berikan kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama yang memiliki maksud dan tujuan sekaligus sebagai Simbol besarnya keinginan agar si anak yang lahir baru kelak di iringi kelahiran anak yang seterusnya, Ulos ini juga dapat dipergunakan sebagai Parompa (alat gendong) untuk anak.
V. Ulos Padang Ursa dan Ulos Pinan Lobu-lobu : di pakai sebagai Tali-tali dan Selendang.
VII. Ulos Pinuncaan.
Ulos ini terdiri darilimabagian yang di tenun secara terpisah yang kemudian di satukan dengan rapi hingga menjadi bentuk satu Ulos. Kegunaannya antara lain:
-      Di pakai dalam berbagai keperluan acara-acara duka cita maupun suka cita, dalam   acara adat ulos ini dipakai/ di sandang oleh Raja-Raja Adat.
-      Di pakai oleh Rakyat Biasa selama memenuhi beberapa pedoman misalnya, pada pesta perkawinan atau upacara adat di pakai oleh suhut sihabolonon/ Hasuhuton (tuan rumah).
-      Kemudian pada waktu pesta besar dalam acara marpaniaran (kelompok istri dari golongan hula-hula), ulos ini juga di pakai/ di lilit sebagai kain/ hohop-hohop oleh keluarga hasuhuton (tuan rumah).
-      Ulos ini juga berfungsi sebagai Ulos Passamot pada acara Perkawinan. Ulos Passamot di berikan oleh Orang tua pengantin perempuan (Hula-hula) kepada ke dua orang tua pengantin dari pihak laki-laki (pangoli). Sebagai pertanda bahwa mereka telah sah menjadi saudara dekat.
VIII, Ulos Ragi Hotang.
Ulos ini di berikan kepada sepasang pengantin yang sedang melaksanakan pesta adat yang di sebut dengan nama Ulos Hela. Pemberian ulos Hela memiliki makna bahwa orang tua pengantin perempuan telah menyetujui putrinya di persunting atau di peristri oleh laki-laki yang telah di sebut sebagai “Hela” (menantu). Pemberian ulos ini selalu di sertai dengan memberikan mandar Hela (Sarung Menantu) yang menunjukkan bahwa laki-laki tersebut tidak boleh lagi berperilaku layaknya seorang laki-laki lajang tetapi harus berperilaku sebagai orang tua. Dan sarung tersebut di pakai dan di bawa untuk kegiatan-kegiatan adat.
IX. Ulos Ragi Huting.
Ulos ini sekarang sudah Jarang di pakai, konon pada jaman dulu sebelum Indonesia merdeka, anak perempuan (gadis-gadis) memakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari yang di lilitkan di dada (Hoba-hoba) yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah seorang putri (gadis perawan) batak Toba yang ber-adat.
X. Ulos Sibolang Rasta Pamontari.
Ulos ini di pakai untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang, Ulos Sibolang bisa di katakan sebagai simbol duka cita, yang di pakai sebagai Ulos Saput (orang dewasa yang meninggal tapi belum punya cucu), dan di pakai juga sebagai Ulos Tujung untuk Janda dan Duda dengan kata lain kepada laki-laki yang ditinggal mati oleh istri dan kepada perempuan yang di tinggal mati oleh suaminya. Apabila pada peristiwa duka cita Ulos ini di pergunakan maka hal itu menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah  sebagai keluarga dekat dari orang yang meninggal.
XI. Ulos Si bunga Umbasang dan Ulos Simpar.
Secara umum ulos ini hanya berfungsi dan  di pakai sebagai Selendang bagi para ibu-ibu sewaktu mengikuti pelaksanaan segala jenis acara adat-istiadat yang kehadirannya sebatas undangan biasa yang di sebut sebagai Panoropi (yang meramaikan) .
XII. Ulos Sitolu Tuho.
Ulos ini di fungsikan atau di pakai sebagai ikat kepala atau selendang.
XIII. Ulos Suri-suri Ganjang.
Ulos ini di pakai sebagai Hande-hande (selendang) pada waktu margondang (menari dengan alunanan musik Batak) dan juga di pergunakan oleh pihak Hula-hula (orang tua dari pihak istri) untuk manggabei (memberikan berkat) kepada pihak borunya (keturunannya) karena itu disebut juga Ulos gabe-gabe (berkat).
XiV. Ulos Simarinjam sisi.
Di pakai dan di fungsikan sebagai kain, dan juga di lengkapi dengan Ulos Pinunca yang di sandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani (mendahului di depan). Yang memakai ulos ini adalah satu orang yang berada paling depan.
XV. Ulos Ragi Pakko dan Ulos Harangan.
Pada zaman dahulu di pakai sebagai selimut bagi keluarga yang berasal dari golongan keluarga kaya,  dan itu jugalah apabila nanti setelah tua dan meninggal akan di saput (di selimutkan, dibentangkan kepada jasad) dengan ulos yang pakai Ragi di tambah Ulos lainnya yang di sebut Ragi Pakko  karena memang warnanya hitam seperti Pakko.
XVI. Ulos Tumtuman.
Di pakai sebagai tali-tali yang bermotif dan di pakai oleh anak yang menunjukkan bahwa yang bersangkutan adalah anak pertama dari hasuhutan (tuan rumah).
XVII. Ulos Tutur-Tutur.
Ulos ini dipakai sebagai tali-tali (ikat kepala) dan sebagai Hande-hande (selendang) yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anaknya (keturunannya)

ulos batak sesuai budaya dan adat nya


“Ulos Batak”, dikenal sebagai Jati diri orang Batak sesuai Budaya dan Adatnya.


>> Jenis Ulos Batak dan Fungsinya. 

Orang Batak sudah dikenal sebagai “Bangso”, kenapa..?
Dahulu sudah memiliki Kerajaan sendiri, Mardebata Mulajadi Nabolon (“pencipta yang maha besar”), memiliki Surat Aksara Batak, dan sudah pernah memiliki Uang tukar yakni Ringgit Batak (“Ringgit Sitio Suara”), uning-uningan namarragam (“musik”), memiliki Budaya Adat, dan mempunyai Hukum.
Namun sekarang ini sudah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan orang Batak Toba sudah banyak yang tidak mengetahui bahasa daerahnya sendiri, melihat perkembangan teknologi sekarang ini, tor-tor Batak sudah banyak yang tidak mengetahuinya, bahkan dewasa ini Ulos Batak tidak dikenal jenis-jenis dan Fungsinya.

2 Musa 19 ayat 10:
Dung i didok Jahowa ma tusi Musa laho maho tumopot bangso i jala urasi nasida sadarion dohot marsogot asa ditatap nasida Ulos na.

Dengan dasar ini Bersama Toba dot Com, mensosialisasikan Jenis dan Fungsi Ulos Batak:
I.Ulos Antak-Antak, dipakai selendang orang tua melayat orang meninggal, dan dipakai sebagai kain dililit/ hohop hohop waktu acara manortor.
II.Ulos Bintang Maratur, Ulos ini merupakan Ulos yang paling banyak kegunaannya didalam acara-acara yakni: Diberikan kepada anak yang memasuki rumah baru oleh orang tua, kalau diadat Toba Ulos ini diberikan waktu selamatan Hamil 7 Bulan oleh orang tua, tetapi lain halnya kalau di Tarutung Ulos ini yang diberikan waktu acara suka cita (“gembira”), Ulos ini juga diberikan kepada Pahompu yang baru lahir, parompa walaupun kebanyakan kasih mangiring apalagi yang maksudnya agar anak yang baru lahir diiringi anak selanjutnya, kemudian ulos ini dipakai untuk pahompu yang dibabtis dan juga dipakai untuk sebagai selendang.
III.Ulos Bolean, Ulos ini dipakai sebagai selendang pada acara-acara kedukaan.
IV.Ulos Mangiring, Ulos ini dipakai selendang, Tali-tali, juga Ulos ini diberikan kepada anak cucu yang baru lahir terutama anak pertama yang dimaksud sebagai Simbol keinginan agar sianak diiringi anak yang seterusnya, bahkan Ulos ini dapat dipakai sebagai Parompa.
V.Ulos Padang Ursa, dipakai sebagai Tali-tali dan Selendang.
VI..Ulos Pinan Lobu-Lobu, dipakai sebagai Selendang.
VII. Ulos Pinuncaan, Ulos ini sebenarnya terdiri dari lima bagian yang ditenun secara terpisah yang kemudian disatukan dengan rapi hingga menjadi bentuk satu Ulos yang kegunaannya antara lain:
Ulos ini dapat dipakai berbagai keperluan acara-acara duka cita atau suka cita, dalam acara adat ulos ini dipakai/ disandang oleh Raja-Raja Adat maupun oleh Rakyat Biasa selama memenuhi pedoman misalnya, pada pesta perkawinan atau upacara adat suhut sihabolonon/ Hasuhutonlah (“tuan rumah”) yang memakai ulos ini, kemudian pada waktu pesta besar dalam acara marpaniaran, ulos ini juga dipakai/ dililit sebagai kain/ hohop-hohop oleh keluarga hasuhuton, dan Ulos ini sebagai Ulos Passamot pada acara Perkawinan.
VIII,Ulos Ragi Hotang, Ulos ini biasa diberi kepada sepasang pengantin yang disebut sebagai Ulos Hela.
IX.Ragi Huting, Ulos ini sekarang sudah Jarang dipakai, konon jaman orang tua dulu sebelum merdeka, anak-anak perempuan pakai Ulos Ragi Huting ini sebagai pakaian sehari-hari dililit didada (Hoba-hoba), dan kemudian dipakai orang tua sebagai selendang apabila bepergian.
X.Ulos Sibolang Rasta Pamontari, Ulos ini kalau jaman dulu dipakai untuk keperluan duka dan suka cita, tetapi pada jaman sekarang ini sibolang bisa dikatakan symbol duka cita, dipakai juga sebagai Ulos Saput (yang meninggal orang dewasa yang belum punya cucu), dan dipakai sebagai Ulos Tujung (Janda/Duda yang belum punya cucu), dan kemudian pada peristiwa duka cita Ulos ini paling banyak dipergunakan oleh keluarga dekat.
XI.Ulos Sibunga Umbasang dan Ulos Simpar, dipakai sebagai Selendang.
XII.Ulos Sitolu Tuho, Ulos ini dipakai sebagai ikat kepala atau selendang wanita,
XIII.Ulos Suri-suri Ganjang, dipakai sebagai Hande-hande pada waktu margondang, dan dipergunakan sebagai oleh pihak Hula-hula untuk manggabe i borunya karena itu disebut juga Ulos gabe-gabe.
XIV.Ulos Ragi Harangan, pemakaiannya sama dengan Ragi Pakko.
XV. Ulos Simarinjam sisi, dipakai sebagai kain, dan juga dilengkapi dengan Ulos Pinuncaan disandang dengan perlengkapan adat Batak sebagai Panjoloani yang memakai ini satu orang paling depan.
XVI. Ulos Ragi Pakko, dipakai sebagai selimut pada jaman dahulu dan pengantar wanita yang dari keluarga kaya bawa dua ragi untuk selimut yang dipergunakan sehari-hari, dan itu jugalah apabila nanti setelah tua meninggal akan disaput pakai Ragi ditambah Ulos lainnya yang disebit Ragi Pakko lantaran memang warnanya hitam seperti Pakko.
XVII.Ulos Tumtuman, dipakai sebagai tali-tali yang bermotif dan dipakai anak yang pertama dari hasuhutan.
XVIII Ulos Tutur-Tutur, dipakai sebagai tali-tali dan sebagai Hande-hande yang sering diberikan oleh orang tua sebagai Parompa kepada cucunya.
Maka dari jenis dan fungsi Ulos ini, disebut pengenalan jati diri orang batak sesuai Budaya dan Adatnya, dan orang Batak dikenal dari Ulos yang disandangnya, sian Tortornya bahkan dari Tungkot na.
Horassssss.!!!!!.

ulos kain khas batak


Ulos, Kain Khas Batak
Ulos
Ini adalah Ulos Ragidup yang melambangkan kehidupan. Foto:metmuseum.org
Selain terkenal dengan tarian, tempat-tempat menarik, dan makanannya, Provinsi Sumatera Utara  juga kaya akan hasil kerajinan seni budaya. Salah satunya adalah kain tenun.
Ulos adalah kain tenun khas suku Batak. Tak hanya sebatas hasil kerajinan seni budaya saja, kain Ulos pun sarat dengan arti dan makna.
Sebagian besar masyarakat Tapanuli menganggap kain tenun Ulos adalah perlambang ikatan kasih sayang, lambang kedudukan, dan lambang komunikasi dalam masyarakat adat Batak.
Oleh karena itu, kain tenun Ulos selalu digunakan dalam setiap upacara, kegiatan dan berbagai acara dalam adat Suku Batak.  Misalnya, untuk perkawinan, kelahiran anak, punya rumah baru, sampai acara kematian.
Ulos
Ulos Ragihotang yang digunakan dalam upacara adat suku Batak. Foto: indokain.com
Tiap-tiap kain tenun Ulos yang dihasilkan memiliki arti dan makna tersendiri, baik bagi pemilik ataupun bagi orang yang menerimanya.
Misalnya saja ULOS RAGIDUP . Ulos ini adalah kain tenun yang tertinggi derajatnya. Sebab, pembuatannya sangatlah sulit.
Kain tenun ulos jenis ini terdiri dari tiga bagian, yaitu 2 sisi yang ditenun sekaligus, dan 1 bagian tengah yang ditenun sendiri dengan motif yang rumit.
Motif Ulos Ragidup ini harus terlihat seperti benar-benar lukisan hidup. Karenanya, ulos jenis ini sering diartikan sebagai ulos yang melambangkan kehidupan dan doa restu untuk kebahagian dalam kehidupan.
Lalu, ada ULOS RAGIHOTANG . Ulos ini derajatnya 1 tingkat di bawah ulos ragidup. Pembuatannya tidak serumit Ulos Ragidup. Namun, Ulos Ragihotang punya arti dan keistimewaan yang berhubungan dengan pekerjaan.
Ulos ini pun sering dipakai dalam upacara adat kematian sebagai pembungkus atau penutup jenazah yang akan dikebumikan. Ulos jenis ini mengartikan bahwa pekerjaan seseorang di dunia ini telah selesai.
Ulos
Ulos Sibolang yang enggak kalah keren. Foto: ulos-batak.com
Selain kedua jenis ulos tersebut, ada satu jenis ulos yang disebut ULOS SIBOLANG . Ulos ini digunakan sebagai tanda jasa penghormatan.
Biasanya dipakai oleh orangtua pengantin atau diberikan oleh orangtua pengantin perempuan buat menantunya.
Oleh karena itu, Ulos Sibolang dijadikan sebagai lambang penyambutan anggota keluarga baru.
Ulos Sibolang juga diberikan kepada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya. Ulos ini diberikan sebagai tanda menghormati jasanya yang telah menjadi istri yang baik, sekaligus sebagai tanda bahwa ia telah menjadi janda.
Makanya, kamu jangan menjadikan kain Ulos sebagai taplak meja atau digunting-gunting menjadi sarung bantal ya, karena itu artinya pelecehan.
Sebaiknya, tempatkan kain tenun Ulos ini pada posisi yang tepat, misalnya disandangkan di bahu sebagai selendang, dililitkan di kepala, atau diikatkan ketat di pinggang.
Nah, selain akan terlihat cantik dan gagah, kamu juga sudah memelihara dan melestarikan hasil kebudayaan Indonesia, lho! 

Sabtu, 10 Maret 2012

pembagian waktu dalam tradisi batak kuno


Pembagian waktu (24jam) dalam tradisi batak kuno



Satu lagi keunikan yang bisa ditemukan dalam tradisi nenek moyang kita (batak) adalah pembagian waktu dalam 24jam.
Setiap jam ada nama-nama tersendiri, mulai dari jam 1.00 s/d jam 12.00 dan jam 13.00 s/d jam 00.00

Nama-nama waktu (24jam)
Nama-nama setiap jam:
1 a.m. = Haroro ni panangko
2 a.m. = Martahuak mirik
3 a.m. = Martahuak manuk pasadaon
4 a.m. = Buha-buha ijuk
5 a.m. = Torang ari
6 a.m. = Bincar mataniari
7 a.m. = Manogot
8 a.m. = Tarbakta
9 a.m. = Tarbakta raja
10 a.m. = Sagang, paragakkon mangan
11 a.m. = Humara hos
12 = Hos
1 p.m. = Guling
2 p.m. = Guling dao
3 p.m. = Tolu gala
4 p.m. = Dua gala
5 p.m. = Andos potang
6 p.m. = Bot, bonom mataniari
7 p.m. = Samon
8 p.m. = Hatiha mangan
9 p.m. = Tungkap hudon
10 p.m. = Sampe modom
11 p.m. = Sampe sinok modom
12 p.m. = Tonga borngin
Nama-nama 8mata angin:
Purba    =Timur
Anggoni    =Tenggara
Dangsina    =Selatan
Nariti    =Barat daya
Pastima    =Barat
Manabia    =Barat laut
Utara    =Utara
Irisanna    =Timur laut
Nama-nama zodiacs Batak :
Mesa     = Gemini
Marsoba     = Taurus
Nituna     = Aries
Harahata     = Cancer
Singa     = Leo
Hania     = Virgo
Tola     = Libra
Mortiha     = Scorpio
Dano     = Sagitarius
Morhara     = Capricornus
Morhumba = Aquarius
Mena     = Pisces 

marpasipangon


Marsipanganon dalam tradisi adat batak

MARSIPANGANON

MAKAN BERSAMA sangat penting dan bermakna khusus bagi
komunitas Batak. Tidak ada suatu pembahasan atau kegiatan penting
yang boleh dilakukan sebelum makan bersama. lngkon di ginjang ni
sipanganon do pangahataion na marsintuhu. Makan bersama atau
sapanganon adalah tanda persekutuan, kebersamaan dan perdamaian.
Bukan sekedar untuk mengenyangkan perut atau bertahan untuk hidup
(survive).
Ada bermacam bentuk makan bersama dalam kultur Batak.
- ada tradisi mamboan sipanganon (membawa makanan ke rumah seseorang) dan
- ada pula mamio (mengundang orang datang untuk makan),
- memberi makan pihak “atas” (manulangi)
- memberi makan pihak “bawah” (mangupa),
- makan dalam rangka meminta sesuatu dan ada juga hanya untuk mentraktir (manggalang),
- makan merayakan sukacita (mangan haroan, mamoholi, pesta unjuk) atau menghayati kedukaan (mangan
indahan sipaet-paet/ togar-togar).

Kultur Batak secara umum menyebutkan makan sebagai mangan
indahan na las (makan nasi hangat) dan minum aek sitio-tio (minum air
bening). lndahan na las dohot aek sitio-tio adalah simbo! kehidupan
penuh sukacita dan kejujuran. Makan bersama sebab itu bertujuan
merayakan kehidupan dan kebenaran.

Menarik, bahwa bahasa Batak sama-sama menggunakan kata "las" untuk
menyebutkan hangat maupun sukacita. Kata tio berarti bening,
digunakan untuk air maupun pandangan. Air yang bening adalah simbol
transparansi, kejujuran dan ketulusan. Kultur Batak sangat menghargai
hal itu.

1. TUDU-TUDU SIPANGANON
Tudu-tudu sipanganon (bila dalam keadaan lengkap atau dilanjutkan
dengan parjambaran disebut na margoar) adalah bagian-bagian
tertentu hewan sembelihan yang diletakkan di tengah-tengah sebagai
simbol penghormatan hasuhutan kepada undangannya khususnya
hula-hula. Sebagai balasnya hula-hula akan memberikan ikan
(dengke) dan beras (dahulu medium berkat sekarang harus diartikan
hanya sebagai "simbol horas").

Sering kita saksikan sekarang sewaktu menyerahkan tudu-tudu
sipanganon pihak keluarga akan beramal-ramai memegang piringnya
dan kalau mereka terlalu banyak jumlahnya akan saling memegang
bahu. seolah-olah ada sesuatu yang hendak dialirkan. Padahal
kesaksian orang tua-tua pada jaman dahulu tidak begitu. Tudu-tudu
sipanganon cukup diletakkan di tengah-tengah ruangan di hadapan
undangan terhormat! Bagi kita orang Kristen iebih baik tudu-tudu
sipanganon diletakkan di tengah-tengah ruang agar tidak
menimbulkan salah tafsir seolah-olah makanan itu memiliki kekuatan
magis atau menjadi medium penyaluran berkat. Sebab tudu-tudu
sipanganon itu kini hanyalah simbol penghormatan kepada undangan
bahwa jamuan dilakukan dengan khidmad dan sepenuh hati. yaüu
dengan sengaja menyembelih seekor hewan. dan bukan membeli
daging kiloan di pasar (rambingan).
Sebagai simbol tudu-tudu sipanganon seharusnya pertama kali
disampaikan kepada Allah dan kemudian kepada manusia. Sebab
itu dalam even pertemuan Kristen-Batak sebaiknya kita lebih dulu
berdoa makan sebelum menyerahkan tudu-tudu sipanganon kepada
hula-hula. ltulah tanda bahwa kita lebih taat dan hormat kepadaAllah
daripada kepada manusia (Kis 5:29).

2.SAPA
Sapa adalah piring kayu berdiameter lebih-kurang 40 cm. Pada jaman
dahulu keluarga nenek moyang kita makan duduk lesehan di lantai
menggunakan satu sapa. Lazimnya 1(satu) rumah memiiiki 1(satu)
sapa. Bapa, ibu dan anak-anak makan di satu sapa dengan tertib,
sopan dan hormat. Peranan sapa sebab itu mirip dengan meja makan*
di rumah kita orang moderen. 1 satu) rumah t(satu) meja makan.
Yang terpenting bukanlah sapa atau meja makan itu, tetapi
kesatuan keluarga yang menggunakan sapa atau meja makan
itu.Tentu saja kita sekarang tidak mungkin lagi kembaii ke tradisi
sapa. Namun acara makan dan doa bersama satu keluarga inti harus
tetap kita lestarikan dan laksanakan. Mungkin bagus jika kita
komunitas Kristen-Batak dapat menjadikan sapa sebagai simbol
kebersamaan keluarga inti: ayah, ibu dan anak-anak. Sebab ada
kecenderungan kita hanyut dengan ritus-ritus keluarga besar (na saompu , parmargaan)
dan mengabaikan peranan keluarga inti sebagai dasar dan tiang kehidupan.


3.MARMEME
  jaman dahulu ibu-ibu marmeme, mengunyahkan makanan
  anak-anaknya yang masih kecil. Makanan lebih dulu dikunyah
  kemudian secara cepat dan trampil langsung dimasukkan ke mulut
anak kecil. Persis seperti burung atau hewan iainnya. Bagi
arang moderen mungkin ini dianggap menggelikan, kurang higienis
atau “jorok”. Namun pada jaman dahulu marmeme adalah
wajar dan merupakan tanggungjawab orangtua. Sebagaimana
marmeme sangat meneguhkan hubungan emosional antara anak dan orang tua
Ada satu umpama yang dalam tentang marmeme:
"Dompak marmeme anak, dompak marmeme boru".
Artinya tidak ada perbedaan antara anak laki-laki atau anak perempuan.


4.MANULANGI & MANGUPA-UPA
Kultur batak mengenal istilah manulangi. yaitu menyampaikan menyampaikan makanan yang lezat
kepada orangtua atau hula hula. Dahulu motifasi memberi makanan ini selain untuk menyenangkan hati orangtua atau
menyampaikan permohonan kepada yang diberi makan.
Apalagi ketika memberi sulang-sulang hariapan atau perjamuan purna bakti atau pensiun dari adat kepada seorang tua.
sebetulnya lebih kental dengan kepentingan anak-anak dari pada kepentingan orang tua yang sudah lanjut usia itu.
Disinilah iman Kristen harus menerangi dan menggarami kultur manulangi . Acara manulangi haruslah berdasarkan kasih agape atau (holong na so marpambuat) dan hormat tanpa syarat
(hormat naso marsiala) kepada orangtua.

Mangupa-upa adalah kebalikan dari manulangi.
Yaitu dari orangtua hula-hula kepada boru. Tujuannya terutama untuk menguatkan, meneguhkan dan memberi semangat kepada anak atau boru yang sakit,terkejut atau baru lepas dari bahaya.
 Pada jaman pra kristen orang yang sakit, lemah, terkejut, celaka dianggap ditinggalkan oleh roh nya
(tondi-nya) karena itu perlu diupa-upa agar rohnya kembali (mulak tondi tu ruma)
Sebab itulah nenek moyang kita kadang memberikan beras keatas kepala anak atau borunya.

Istilah boras si pir ni tondi menunjuk kepada pemahaman bahwa tondi
(roh) si sakit harus dikuatkan dan didinginkan. Istilah boras si
pir ni tondi ini tidak cocok lagi dengan kekristenan kita yang
menghayati kesatuan pribadi (tubuh-roh). Selain itu bagi kita yang
beriman kepada Kristus makanan (sipanqanon) tidak lagi dianggap
memiliki kekuatan magis atau menjadi medium berkat. Sumber
kesembuhan. kekuatan dan keselamatan kita adalah Tuhan Yesus
Kristus yang telah mati dan bangkit. Boras hanyalah simbol
hahorason!
Sebab itu acara mangupa-upa bagi kita adalah kebaktian atau ibadah
memohon kesembuhan atau kekuatan kepada Allah Bapa, AnakNya
Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Makanan upa-upa hanyalah
simbol kasih dan perhatian kita kepada yang .sa-fit dan bukan medium
(parhitean) berkat. Dalam mangupa-upa perhatian kita harus tetap
tertuju kepada Kristus yang tersalib dan bangkit. Jelas dan tegas
bagi kita Kristus itulah satu-satunya sumber kekuatan.

5 MANGAN INDAHAN NA SINAOR atau PARPANGANAN NA BADIA
Kultur Batak mengenal apa yang dinamakan mangan indahan na
sinaor atau perjamuan pendamaian (pemulihan hubungan). Jika ada
dua orang atau kelompok yang terlibat konfik maka mereka akan
menyelesaikan konflik melalui makan bersama yang biayanya dipikul
oleh kedua belah pihak. Bagi kita komunitas Kristen-Batak tentu tidak
ada larangan menyelenggarakan makan bersama sebagai tanda
perdamaian ini. Namun, kita harus menyadari bahwa sesungguhnya
Kristuslah yang mendamaikan kita (Efesus 2:13-18). Karena itu
Perjamuan Kudus (ekaristi) itulah sesungguhnya perjamuan
pendamaian yang sejati. Melalui Perjamuan Kudus pertama-tama
dan terutama kita diperdamaikan dengan Allah dan sebagai
dampaknya diperdamaikan dengan sesama, diri sendiri dan alam lingkungan kita.
Dalam Perjamuan kudus  tubuh dan darah Tuhan hadir dalam dan bersama sama
roti dan anggur yang kita makan. (con-substansia).
Roti dan anggur tidak berubah  wujud namun tubuh dan darah Tuhan Yesus:
sumber pengampunan dosa, pendamaian, kehidupan yang kekal, suka ita, dan damai sejahtera kita.

Dalam gereja purba (1Kor 11:17-22) dikenal perjamuan kasih (agape).
Sebelum Perjamuan Kudus, maka jemaat lebih dulu makan bersama,
yang bahannya dikumpulkan dari yang dibawa oleh masing-masing
anggota. Lambat-laun tradisi ini menghilang. Namun sebenarnya baik
jika dihidupkan kembali oleh gereja-gereja berlatar belakang budaya
Batak dan modernitas yang sangat haus akan kebersamaan dan
persekutuan (communion).

"Pertanyaan :siapa yang paling berat menanggung biayamarp
tradisi makan (marsipanganon) Batak ini? Apakah jamuan-jamuan
makan ini membebaskan (meringankan) atau malah memberatkan
(menekan) komunitas Kristen-Batak itu sendiri terutama yang
ekonominya lemah?"

6.SEMUA BOLEH TETAPI TIDAK WAJIB
Apa kata Alkitab tentang makanan? Yesus mengatakan bahwa segala
sesuatu boleh dimakan, yang najis bukanlah apa yang masuk melalui
mulut tetapi apa yang keluar dari mulut (perkataan). (Mat 15:11)
Segala sesuatu dapat dimakan dan diminum. tidak ada yang haram.
(Kol 2:16). Kerajaan Allah bukan soal makanan atau minuman(Roma
14:17). Tidak ada jenis makanan yang mendekatkan atau
menjauhkan diri kita dari Allah (1Kor 8:8-10). Kita boleh makan dan
minum apa saja (termasuk daging bercampur darah, atau alkohol)
dengan ucapan syukur. Dan kita tidak diijinkan menjadikan kebebasan
itu sebagai batu sandungan bagi orang lain. Kita harus menguasai
diri dan tidak boleh diperhamba oleh makanan atau minuman
(termasuk bir atau anggur). Karena itu kita juga tidak boleh
menjadikan sangsang (daging babi) sebagai tanda kekristenan kita.
Tanda kekristenan kita yang sesungguhnya adalah kebenaran, damai sejahtera dan sukacita abadi oleh Roh Kudus (Roma 14:17).

 (Pdt. Daniel T.A Harahap)